Ikang-ikang di Paotere’

paotere4

Matahari baru saja menyinari lambung pinisi ketika Daeng Kulle memarkir sepeda jengki merek phoenix keluaran 1975 itu di pelataran sebelah timur pasar. Sepeda pa’gandeng, sebutan untuk penjual ikan keliling kini tinggal beberapa saja sejak motor bisa dengan mudah dicicil. Asap rokok Daeng Kulle sudah mengudara sejak ia menyusuri jalanan dari rumahnya menuju Paotere. Keranjang ikan terpasang dikiri-kanan siap di isi dengan ikan hari ini. Semoga tangkapan nelayan berlimpah.

Satu-satu perahu jolloro merapat ke dermaga. Nelayan dengan sigap mengeluarkan ikan dari perahu, mengangkatnya ke atas darat. Air menetes dari lubang keranjang yang dipenuhi banyara’, sindrili dan sunu’. Lantai tempat pelelangan mulai ramai oleh penjual dan pembeli. Genangan limbah dimana-mana. Amis dan becek tidak jadi soal.

“tiga limaeeee….”.

“ambil semua mi, tujuhpuluh. Ikang barueeee…..!”

Suara penjual hiruk pikuk memenuhi area pelelangan. Hari ini lebih ramai dari biasanya. Nelayan hilir-mudik mengangkut ikan dari perahu ke atas mobil truk. Sebaliknya mobil-mobil dengan bak terbuka memindahkan ikan dengan kotak sterofoam besar ke area pelelangan. Mereka datang dari Maros dan Pangkep, kota yang dekat dari Makassar. Bahkan ada yang dari Mamuju dan Masamba. Nafas Paotere makin kencang menjelang siang.

paotere1

Saya berjalan ke arah dermaga di ujung barat. Bertemu Daeng Azis yang sedang mengawasi dua perahu jolloronya yang mendarat. Senyumnya merekah, kumisnya tertarik ke atas. Dia sudah mengenal saya sejak kami bertemu di warung kopi di tepi dermaga sebelah utara. “baguski cuacanya tadi malam. Laut tenan, tidak ada ombat. Seperti ji disini….” sambutnya sambil menunjuk ke arah tepi air. “Banyak ikang nai’. Kaya itu, sibula’. Ikang sardeng na bilang orang Jawa.” paparnya sambil mengambil salah se-ekor ikan segar dari keranjang. Saya mengangguk paham. Ikut senang melihat hasil tangkapan yang melimpah. “tapi nanti malang ini blum tau cuacanya bagimana. Kalo liat awang itu bersusung-susung di bawah….kurang bagus cuaca” ia menunjuk ke cakrawala di sebelah barat. Saya mengangguk lagi, sambil berharap angin memihak pada nelayan.

Sementara di lantai pelelangan makin ramai. Orang-orang berdesak-desakan. Penjual terus menawarkan ikan pada pengunjung. Pengepul sibuk mencatat transaksi hanya di atas secarik kertas kumal bercampur sisik ikan dan air laut. “kasi ki ini sama Puang Ha’ji, bilang ikanna yg kemarin sudah di bayar semua”. seorang utusan mengangguk lalu bergegas masuk dalam kerumunan. Anak-anak kecil penjaja tas plastik menawarkan jasanya mengangkatkan belanjaan. Menyelinap diantara orang-orang dewasa. Saya melangkah keluar dari kerumunan mencari warung kopi dipinggir dermaga…..

Meja panjang ditengah warung kopi sudah dipenuhi nelayan yang berkumpul melepas penat. Lima hari di tengah laut sudah pasti mereka rindu daratan. Segelas kopi hitam paling pahit hari berdiri di depan saya. Tampangnya lebih sangar dari espresso di cafe moderen tentu saja. Tapi kopi bukan soal nama, lebih banyak karena suasana. Dan kopi tubruk ini pas berada di antara obrolan tentang kehidupan nelayan di Paotere.

“Sekarang susah mi dapat ikang di dekat-dekat sini. Harus keluar jauh sekali” Daeng Azis membuka obrolan sambil menyalakan rokoknya. “Potas itu bikin habis ikang. Buang potas disini, bisa sampe ke Maros itu racung nya…..”. Asap rokoknya mengepul. Saya memperhatikan gurat kegalauan di dahinya. “Bagaimana tindakan petugas?” tanya saya, padahal jawabannya sudah saya tebak. “Apa mau na biking, na rata-rata dekkenna petugas ji juga…”. Ia menyikat kopinya langsung setengah gelas. Jawaban yang selalu saya dengar disetiap obrolan dengan nelayan di daerah manapun. Musuh mereka bukan hanya cuaca, tapi potas dan pukat harimau. Itu di laut. Musuh di darat lebih ngeri lagi.

paotere3

Tidak berapa lama seorang pria berbadan besar berkulit gelap masuk meneyerahkan catatan dan segepok uang pada Daeng Azis. Mereka duduk berhadapan. Menghitung uang, lalu saling mengangguk. Transaksi selesai.

Warung makin ramai. Orang-orang tertarik dengan kamera kecil yang saya letakkan di atas meja. Mereka pikir saya wartawan. Tiba-tiba serobongan anak tanggung masuk mengambil tempat duduk disamping saya. Kulitnya gelap terbakar matahari. Saya memperhatikan mereka satu-satau. Seharusnya mereka berada disekolah disaat seperti ini. “Klas berapa?”

“Aihhh, ndak sekolah mi semua itu pak” sergah Daeng Azis. Anak-anak itu tersenyum kecut lalu mengejek teman-temannya. “Kalau ada mi uang na ndak mau mi pergi sekolah”. tambah Daeng Azis. Mereka seperti menemukan sekolahnya sendiri di pasar ikan ini. Dermaga, perahu dan areal pelelangan yang becek seperti halaman sekolah bagi mereka. Dalam benaknya uang adalah tujuan akhir. Membersihkan ikan, mengangkat keranjang, menjual ikan sampai membantu mengangkat belanjaan pembeli adalah pilihan pekerjaan yang bisa mereka lakukan disini. Setelah mengumpulkan uang dari 20 ribu hingga 100an ribu, mereka lalu bersenang-senang.

“Ini pak yang suka isap lem…….!” teriak Masri menunjuk temannya yang bertelanjang dada dengan rambut potongan tidak jelas……

Tidak lama mereka berlarian keluar menuju sebuah perahu… mengambil ancang-ancang lalu melompat ke dalam laut……byuuuuuuuurrrrrrr!!!!!

paotere6

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s